فَمَا تَنفَعُهُمْ شَفَـٰعَةُ ٱلشَّـٰفِعِينَ
Famā tanfa‘uhum syafā‘atusy-syāfi‘īn(a).
Maka, tidak berguna lagi bagi mereka syafaat (pertolongan) dari para pemberi syafaat.
Baca Al-Quran Halaman 577 memuat Al-Muddaththir ayat 48-56, Al-Qiyamah ayat 1-19 dengan teks Arab jelas, terjemahan bahasa Indonesia, dan audio murottal per ayat.
فَمَا تَنفَعُهُمْ شَفَـٰعَةُ ٱلشَّـٰفِعِينَ
Famā tanfa‘uhum syafā‘atusy-syāfi‘īn(a).
Maka, tidak berguna lagi bagi mereka syafaat (pertolongan) dari para pemberi syafaat.
فَمَا لَهُمْ عَنِ ٱلتَّذْكِرَةِ مُعْرِضِينَ
Famā lahum ‘anit-tażkirati mu‘riḍīn(a).
Lalu, mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)
كَأَنَّهُمْ حُمُرٌ مُّسْتَنفِرَةٌ
Ka'annahum ḥumurum mustanfirah(tun).
seakan-akan mereka keledai liar yang terkejut
فَرَّتْ مِن قَسْوَرَةٍۭ
Farrat min qaswarah(tin).
lari dari singa.
بَلْ يُرِيدُ كُلُّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُمْ أَن يُؤْتَىٰ صُحُفًا مُّنَشَّرَةً
Bal yurīdu kullumri'im minhum ay yu'tā ṣuḥufam munasysyarah(tan).
Bahkan, setiap orang dari mereka ingin diberi lembaran-lembaran (kitab) yang terbuka.
كَلَّا ۖ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلْـَٔاخِرَةَ
Kallā, bal lā yakhāfūnal-ākhirah(ta).
Sekali-kali tidak! Sebenarnya mereka tidak takut pada akhirat.
كَلَّآ إِنَّهُۥ تَذْكِرَةٌ
Kallā innahū tażkirah(tun).
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu adalah suatu peringatan.
فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ
Faman syā'a żakarah(ū).
Siapa yang berkehendak tentu mengambil pelajaran darinya.
وَمَا يَذْكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ ۚ هُوَ أَهْلُ ٱلتَّقْوَىٰ وَأَهْلُ ٱلْمَغْفِرَةِ
Wa mā yażkurūna illā ay yasyā'allāh(u), huwa ahlut-taqwā wa ahlul-magfirah(ti).
Mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya (Al-Qur’an), kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dialah yang (kita) patut bertakwa kepada-Nya dan yang berhak memberi ampunan.
لَآ أُقْسِمُ بِيَوْمِ ٱلْقِيَـٰمَةِ
Lā uqsimu biyaumil-qiyāmah(ti).
Aku bersumpah demi hari Kiamat.
وَلَآ أُقْسِمُ بِٱلنَّفْسِ ٱللَّوَّامَةِ
Wa lā uqsimu bin nafsil-lawwāmah(ti).
Aku bersumpah demi jiwa yang sangat menyesali (dirinya sendiri).
أَيَحْسَبُ ٱلْإِنسَـٰنُ أَلَّن نَّجْمَعَ عِظَامَهُۥ
Ayaḥsabul-insānu allan najma‘a ‘iẓāmah(ū).
Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya?
بَلَىٰ قَـٰدِرِينَ عَلَىٰٓ أَن نُّسَوِّىَ بَنَانَهُۥ
Balā qādirīna ‘alā an nusawwiya banānah(ū).
Tentu, (bahkan) Kami mampu menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna.
بَلْ يُرِيدُ ٱلْإِنسَـٰنُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُۥ
Bal yurīdul-insānu liyafjura amāmah(ū).
Akan tetapi, manusia hendak berbuat maksiat terus-menerus.
يَسْـَٔلُ أَيَّانَ يَوْمُ ٱلْقِيَـٰمَةِ
Yas'alu ayyāna yaumul-qiyāmah(ti).
Dia bertanya, “Kapankah hari Kiamat itu?”
فَإِذَا بَرِقَ ٱلْبَصَرُ
Fa iżā bariqal-baṣar(u).
Apabila mata terbelalak (ketakutan),
وَخَسَفَ ٱلْقَمَرُ
Wa khasafal-qamar(u).
bulan pun telah hilang cahayanya,
وَجُمِعَ ٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ
Wa jumi‘asy-syamsu wal-qamar(u).
serta matahari dan bulan dikumpulkan,
يَقُولُ ٱلْإِنسَـٰنُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ ٱلْمَفَرُّ
Yaqūlul-insānu yauma'iżin ainal-mafarr(u).
pada hari itu manusia berkata, “Ke mana tempat lari?”
كَلَّا لَا وَزَرَ
Kallā lā wazar(a).
Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung.
إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ ٱلْمُسْتَقَرُّ
Ilā rabbika yauma'iżinil-mustaqarr(u).
(Hanya) kepada Tuhanmu tempat kembali pada hari itu.
يُنَبَّؤُا۟ ٱلْإِنسَـٰنُ يَوْمَئِذٍۭ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ
Yunabba'ul-insānu yauma'iżim bimā qaddama wa akhkhar(a).
Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dia kerjakan dan apa yang telah dia lalaikan.
بَلِ ٱلْإِنسَـٰنُ عَلَىٰ نَفْسِهِۦ بَصِيرَةٌ
Balil-insānu ‘alā nafsihī baṣīrah(tun).
Bahkan, manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri735)
وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُۥ
Wa lau alqā ma‘āżīrah(ū).
walaupun dia mengemukakan alasan-alasan(-nya).
لَا تُحَرِّكْ بِهِۦ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِۦٓ
Lā tuḥarrik bihī lisānaka lita‘jala bih(ī).
Jangan engkau (Nabi Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur’an) karena hendak tergesa-gesa (menguasai)-nya.
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُۥ وَقُرْءَانَهُۥ
Inna ‘alainā jam‘ahū wa qur'ānah(ū).
Sesungguhnya tugas Kamilah untuk mengumpulkan (dalam hatimu) dan membacakannya.
فَإِذَا قَرَأْنَـٰهُ فَٱتَّبِعْ قُرْءَانَهُۥ
Fa iżā qara'nāhu fattabi‘ qur'ānah(ū).
Maka, apabila Kami telah selesai membacakannya, ikutilah bacaannya itu.
ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُۥ
Ṡumma inna ‘alainā bayānah(ū).
Kemudian, sesungguhnya tugas Kami (pula)-lah (untuk) menjelaskannya.