Al Quran Halaman 576 (Surah Al-Muddaththir)

Baca Al-Quran Halaman 576 memuat Al-Muddaththir ayat 18-47 dengan teks Arab jelas, terjemahan bahasa Indonesia, dan audio murottal per ayat.

Kandungan Halaman 576

  • Surah Al-Muddaththir (المدثر) ayat 18-47 Baca

Teks Lengkap Ayat Halaman 576

Al-Muddaththir ayat 18

إِنَّهُۥ فَكَّرَ وَقَدَّرَ

Innahū fakkara wa qaddar(a).

Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya).

Al-Muddaththir ayat 19

فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ

Faqutila kaifa qaddar(a).

Maka, binasalah dia. Bagaimanakah dia menetapkan?

Al-Muddaththir ayat 20

ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ

Ṡumma qutila kaifa qaddar(a).

Kemudian, binasalah dia. Bagaimanakah dia menetapkan?

Al-Muddaththir ayat 21

ثُمَّ نَظَرَ

Ṡumma naẓar(a).

Kemudian dia memikirkan (untuk melecehkan Al-Qur’an).

Al-Muddaththir ayat 22

ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ

Ṡumma ‘abasa wa basar(a).

Kemudian, dia berwajah masam dan cemberut (karena tidak menemukan kelemahan Al-Qur’an).

Al-Muddaththir ayat 23

ثُمَّ أَدْبَرَ وَٱسْتَكْبَرَ

Ṡumma adbara wastakbar(a).

Kemudian, dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri.

Al-Muddaththir ayat 24

فَقَالَ إِنْ هَـٰذَآ إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ

Faqāla in hāżā illā siḥruy yu'ṡar(u).

Lalu, dia berkata, “(Al-Qur’an) ini tidak lain, kecuali sihir yang dipelajari (dari orang-orang terdahulu).

Al-Muddaththir ayat 25

إِنْ هَـٰذَآ إِلَّا قَوْلُ ٱلْبَشَرِ

In hāżā illā qaulul-basyar(i).

Ini tidak lain kecuali perkataan manusia.”

Al-Muddaththir ayat 26

سَأُصْلِيهِ سَقَرَ

Sa'uṣlīhi saqar(a).

Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar.

Al-Muddaththir ayat 27

وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا سَقَرُ

Wa mā adrāka mā saqar(a).

Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu?

Al-Muddaththir ayat 28

لَا تُبْقِى وَلَا تَذَرُ

Lā tubqī wa lā tażar(u).

(Neraka Saqar itu) tidak meninggalkan (sedikit pun bagian jasmani) dan tidak membiarkan(-nya luput dari siksaan).

Al-Muddaththir ayat 29

لَوَّاحَةٌ لِّلْبَشَرِ

Lawwāḥatul lil-basyar(i).

(Neraka Saqar itu) menghanguskan kulit manusia.

Al-Muddaththir ayat 30

عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ

‘Alaihā tis‘ata ‘asyar(a).

Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).

Al-Muddaththir ayat 31

وَمَا جَعَلْنَآ أَصْحَـٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَـٰٓئِكَةً ۙ وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لِيَسْتَيْقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَـٰبَ وَيَزْدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِيمَـٰنًا ۙ وَلَا يَرْتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۙ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ وَٱلْكَـٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَـٰذَا مَثَلًا ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ ۚ وَمَا هِىَ إِلَّا ذِكْرَىٰ لِلْبَشَرِ

Wa mā ja‘alnā aṣḥāban-nāri illā malā'ikah(tan), wa mā ja‘alnā ‘iddatahum illā fitnatal lil-lażīna kafarū, liyastaiqinal-lażīna ūtul-kitāba wa yazdādal-lażīna āmanū īmānaw wa lā yartābal-lażīna ūtul-kitāba wal-mu'minūn(a), wa liyaqūlal-lażīna fī qulūbihim maraḍuw wal-kāfirūna māżā arādallāhu bihāżā maṡalā(n), każālika yuḍillullāhu may yasyā'u wa yahdī may yasyā'(u), wa mā ya‘lamu junūda rabbika illā huw(a), wa mā hiya illā żikrā lil-basyar(i).

Kami tidak menjadikan para penjaga neraka, kecuali para malaikat dan Kami tidak menentukan bilangan mereka itu, kecuali sebagai cobaan bagi orang-orang kafir. (Yang demikian itu) agar orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin, orang yang beriman bertambah imannya, orang-orang yang diberi kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu, serta orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (berkata,) “Apakah yang dikehendaki Allah dengan (bilangan) ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang Dia kehendaki (berdasarkan kecenderungan dan pilihan mereka sendiri) dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapan mereka untuk menerima petunjuk). Tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri. Ia (neraka Saqar itu) tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia.

Al-Muddaththir ayat 32

كَلَّا وَٱلْقَمَرِ

Kallā wal-qamar(i).

Sekali-kali tidak!734) Demi bulan,

Al-Muddaththir ayat 33

وَٱلَّيْلِ إِذْ أَدْبَرَ

Wal-laili iż adbar(a).

demi malam ketika telah berlalu,

Al-Muddaththir ayat 34

وَٱلصُّبْحِ إِذَآ أَسْفَرَ

Waṣ-ṣubḥi iżā asfar(a).

dan demi subuh apabila mulai terang,

Al-Muddaththir ayat 35

إِنَّهَا لَإِحْدَى ٱلْكُبَرِ

Innahā la'iḥdal-kubar(i).

sesungguhnya ia (neraka Saqar itu) benar-benar salah satu (bencana) yang sangat besar,

Al-Muddaththir ayat 36

نَذِيرًا لِّلْبَشَرِ

Nażīral lil-basyar(i).

sebagai peringatan bagi manusia,

Al-Muddaththir ayat 37

لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ

Liman syā'a minkum ay yataqaddama au yata'akhkhar(a).

(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang ingin maju (meraih kebajikan) atau mundur (dengan berbuat maksiat).

Al-Muddaththir ayat 38

كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

Kullu nafsim bimā kasabat rahīnah(tun).

Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan,

Al-Muddaththir ayat 39

إِلَّآ أَصْحَـٰبَ ٱلْيَمِينِ

Illā aṣḥābal-yamīn(i).

kecuali golongan kanan,

Al-Muddaththir ayat 40

فِى جَنَّـٰتٍ يَتَسَآءَلُونَ

Fī jannātin - yatasā'alūn(a).

berada di dalam surga yang mereka saling bertanya

Al-Muddaththir ayat 41

عَنِ ٱلْمُجْرِمِينَ

‘Anil-mujrimīn(a).

tentang (keadaan) para pendurhaka,

Al-Muddaththir ayat 42

مَا سَلَكَكُمْ فِى سَقَرَ

Mā salakakum fī saqar(a).

“Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?”

Al-Muddaththir ayat 43

قَالُوا۟ لَمْ نَكُ مِنَ ٱلْمُصَلِّينَ

Qālū lam naku minal-muṣallīn(a).

Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan salat

Al-Muddaththir ayat 44

وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ ٱلْمِسْكِينَ

Wa lam naku nuṭ‘imul-miskīn(a).

dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin.

Al-Muddaththir ayat 45

وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلْخَآئِضِينَ

Wa kunnā nakhūḍu ma‘al-khā'iḍīn(a).

Bahkan, kami selalu berbincang (untuk tujuan yang batil) bersama para pembincang,

Al-Muddaththir ayat 46

وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ

Wa kunnā nukażżibu biyaumid-dīn(i).

dan kami selalu mendustakan hari Pembalasan,

Al-Muddaththir ayat 47

حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلْيَقِينُ

Ḥattā atānal-yaqīn(u).

hingga datang kepada kami kematian.”