Ketika seseorang mengucapkan kebohongan atau merencanakan tindakan durhaka, organ tubuh manakah yang paling bertanggung jawab? Secara intuitif dan konvensional, manusia di masa lampau hampir selalu mengarahkan tuduhan kepada lidah (lisan) yang melafalkan kata-kata dusta, atau hati (qalb) sebagai lambang niat batin.

Namun, di dalam Al-Qur'an—kitab suci yang diwahyukan pada abad ke-7—terdapat sebuah deskripsi anatomis yang sangat tidak lazim dan mencengangkan ketika menyinggung tentang perbuatan maksiat dan kedustaan Abu Jahal. Di dalam Surah Al-'Alaq Ayat 15-16:

“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tarik (dan seret) ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun yang mendustakan lagi durhaka.” (QS. Al-'Alaq: 15 - 16)

Perhatikan pilihan kata Al-Qur'an: ayat tersebut tidak mengatakan “lisan yang mendusta” atau “orang yang mendusta melalui ubun-ubunnya”, melainkan menyematkan sifat berdusta (kâdzibah) dan berbuat salah/dosa (khâthi’ah) secara gramatikal langsung kepada kata an-nâshiyah (ubun-ubun atau area kepala bagian depan). Mengapa Al-Qur'an secara spesifik menunjuk ubun-ubun sebagai subjek pelaku kedustaan dan kesalahan?

Misteri narasi Al-Qur'an ini baru menemukan penjelasan ilmiahnya yang utuh pada era modern melalui perkembangan pesat cabang ilmu neuroanatomi dan neurosains kognitif. Tepat di belakang tulang dahi dan ubun-ubun manusia terletak sebuah struktur otak yang paling maju dan berevolusi tinggi, yaitu korteks prefrontal (prefrontal cortex) pada lobus frontalis:

  1. Pusat Kendali Eksekutif dan Inisiasi Perilaku: Neurosains modern mengklasifikasikan korteks prefrontal sebagai pusat executive functioning, yang mengendalikan perencanaan strategis (planning), pengambilan keputusan (decision-making), pertimbangan moral, serta inisiasi tindakan baik maupun buruk.
  2. Aktivasi Saraf Saat Berbohong (Deception Processing): Berbagai riset menggunakan teknologi pencitraan resonansi magnetik fungsional (functional Magnetic Resonance Imaging / fMRI) membuktikan bahwa proses berbohong membutuhkan beban kognitif yang jauh lebih tinggi daripada berkata jujur. Ketika seseorang merekayasa kedustaan, area korteks prefrontal mengalami lonjakan aktivitas metabolik yang signifikan untuk menekan kebenaran (inhibition) dan menyusun narasi palsu (working memory manipulation). Secara biologis, inisiator kedustaan bukanlah lidah—karena lidah hanyalah instrumen mekanik artikulator suara—melainkan jaringan saraf di korteks prefrontal di balik ubun-ubun.
  3. Pusat Kendali Motivasi dan Agresi: Area prefrontal juga bertanggung jawab atas agresi terencana dan pelanggaran aturan sosial (khâthi’ah). Kerusakan atau malfungsi pada area ini terbukti secara klinis menghilangkan kemampuan empati, pengendalian impuls, dan kepekaan nurani moral seseorang.

Ketelitian penunjukan ubun-ubun (an-nâshiyah) ini juga selaras dengan ayat lain di dalam Surah Hud Ayat 56, di mana Nabi Hud AS menyatakan ketundukan total segala makhluk:

“Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya (menguasai dan mengendalikannya)...” (QS. Hud: 56)

Dalam doa ma'tsur yang diajarkan Rasulullah SAW, beliau juga memohon dengan lafal: “Allāhumma innī 'abduka... nāshiyatī bi-yadik...” (Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, ubun-ubunku berada dalam genggaman kekuasaan-Mu). Penyerahan ubun-ubun melambangkan penyerahan pusat kendali kehendak, motivasi, dan kesadaran tertinggi manusia kepada Sang Pencipta.

Dari aspek hukum etika dan moralitas syariat, pemahaman tentang mekanisme kognitif di balik ubun-ubun ini menegaskan pentingnya integritas hati dan pikiran. Rasulullah SAW memberikan peringatan fundamental tentang dampak sistemik kedustaan dalam hadits shahih riwayat Shahih Bukhari No. 6094 (dan Shahih Muslim No. 2607):

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan membimbing ke surga... Dan jauhilah oleh kalian kedustaan, karena sesungguhnya kedustaan membimbing kepada kejahatan, dan kejahatan membimbing ke neraka...” (Shahih Bukhari No. 6094)

Refleksi peradaban dan tadabbur bagi kehidupan sehari-hari:

  1. Sinergi Mukjizat Wahyu dan Neurosains: Pada abad ke-7, tidak ada mikroskop elektron, tomografi, atau teknologi fMRI yang mampu mendeteksi fungsi korteks serebral. Penyebutan ubun-ubun sebagai organ pendusta menjadi saksi bahwa Al-Qur'an bersumber dari Dzat Yang Maha Mengetahui arsitektur biologis manusia secara sempurna.
  2. Melatih Disiplin Mental dan Kesadaran Diri (Tazkiyatun Nafs): Karena keputusan moral bermula dari olah pikir prefrontal, syariat Islam mewajibkan setiap muslim menjaga pikiran dari prasangka buruk, niat jahat, dan tipu daya sebelum hal tersebut bertransformasi menjadi tindakan verbal dan fisik.
  3. Kejujuran Sebagai Pembentuk Jalur Saraf Kebaikan: Hadits Nabi tentang kejujuran yang membimbing kepada kebaikan (al-birr) selaras dengan konsep neuroplastisitas modern: kebiasaan berkata jujur secara konsisten melatih sirkuit otak untuk senantiasa tenang, terbebas dari stres kognitif disonansi akibat kebohongan, serta memperkuat nurani integritas.

Mari kita senantiasa memohon perlindungan kepada Allah agar dianugerahi ubun-ubun yang tunduk patuh, pikiran yang jernih, serta lisan yang selalu teguh menyuarakan kejujuran dan kebenaran.