Ketika Anda memandangi deretan pegunungan megah yang menjulang tinggi menembus awan, apa yang terlintas dalam benak Anda? Bagi manusia di zaman kuno, gunung sering dianggap sebagai tumpukan batu dan tanah raksasa yang sekadar menempel di atas permukaan bumi, atau bahkan dipuja sebagai tempat bersemayamnya kekuatan gaib yang menakutkan.
Namun, di dalam Al-Qur'an yang diwahyukan pada abad ke-7 di jazirah Arab, terdapat perumpamaan geologis yang sangat presisi, unik, dan melampaui imajinasi manusia pada masanya mengenai struktur internal pegunungan.
Di dalam Surah An-Naba' Ayat 6-7, Allah SWT berfirman:
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan, (6) dan gunung-gunung sebagai pasak (awtādan)? (7)” (QS. An-Naba': 6-7)
Al-Qur'an mempertegas fungsi struktural ini dalam Surah Al-Anbiya' Ayat 31:
“Dan Kami telah menjadikan di bumi gunung-gunung yang kokoh agar bumi itu tidak berguncang bersama mereka...” (QS. Al-Anbiya': 31)
Serta dalam Surah Luqman Ayat 10:
“...Dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi agar bumi itu tidak mengguncangkan kamu...” (QS. Luqman: 10)
Secara bahasa, kata al-awtād adalah bentuk jamak dari watad, yaitu patok atau pasak kayu yang digunakan untuk mengencangkan tali tenda kemah. Karakteristik utama sebuah pasak adalah sebagian kecilnya terlihat di permukaan, sedangkan bagian terbesarnya tertanam kokoh jauh di dalam tanah untuk menahan beban tarikan angin badai.
Bagaimanakah sains geofisika modern membuktikan kebenaran analogi pasak ini?
- Penemuan Akar Pegunungan (Mountain Roots): Baru pada paruh kedua abad ke-19, tepatnya pada tahun 1889, seorang astronom dan geofisikawan Inggris bernama Sir George Airy merumuskan konsep kesetimbangan gravitasi kerak bumi yang dikenal sebagai teori Isostasi (Isostasy). Sains modern membuktikan bahwa pegunungan tidak berdiri di atas lapisan batuan keras yang padat, melainkan mengapung di atas mantel astenosfer yang lebih cair dan padat. Agar tidak roboh atau tenggelam, sebuah gunung harus memiliki akar penopang vertikal ke bawah yang menembus mantel bumi, mirip dengan gunung es (iceberg) di lautan.
- Proporsi Kedalaman Pasak: Data seismik modern menunjukkan bahwa untuk gunung setinggi Gunung Everest di pegunungan Himalaya (sekitar 8,8 kilometer di atas permukaan laut), akar keraknya menembus ke dalam lapisan mantel bumi hingga kedalaman lebih dari 70 kilometer! Artinya, apa yang kita lihat di permukaan tanah hanyalah puncak kecil dari sebuah pasak geologis raksasa yang sebagian besarnya terhunjam di kedalaman bumi.
- Stabilisator Kerak Lempeng Benua: Kerak bumi terdiri atas lempeng-lempeng tektonik yang terus bergerak secara dinamis. Tumbukan antar-lempeng menghasilkan deretan pegunungan lipatan yang bekerja seperti staples atau pasak raksasa yang menyatukan lempeng benua dan menstabilkan kerak bumi dari guncangan tektonik liar, persis sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an: an tamīda bikum (agar bumi tidak berguncang bersama kalian).
Mengetahui fakta bahwa gunung memiliki akar penunjang yang tertanam dalam tanah—konsep yang baru diverifikasi oleh alat pengukur gravitasi dan seismograf modern di era modern—merupakan bukti keagungan wahyu Al-Qur'an yang diturunkan kepada seorang nabi yang ummi di tengah padang pasir 14 abad yang lalu.
Di balik ketakjuban geosains tersebut, perumpamaan gunung sebagai pasak menyimpan mutiara hikmah yang sangat mendalam bagi ketahanan mental dan spiritual manusia:
- Kekuatan Akar Integritas yang Tak Terlihat: Nilai sejati seorang manusia tidak semata-mata diukur dari pencapaian lahiriah yang kasat mata, melainkan dari kedalaman akar karakternya: keimanan yang tulus, integritas moral, dan kejujuran nurani yang tertanam dalam batin. Semakin tinggi pohon menjulang atau gunung membubung, semakin dalam akar yang harus ia miliki agar tidak mudah tumbang.
- Menjadi Penyeimbang dan Penstabil Lingkungan: Sebagaimana pasak gunung yang menjaga keseimbangan bumi dari guncangan hebat, seorang insan yang berilmu dan bertakwa dipanggil untuk menjadi figur penstabil (stabilizer) di tengah masyarakat: meredakan konflik, membawa ketenangan, dan menolak terombang-ambing oleh arus histeria massal.
- Keteguhan di Tengah Ujian Hidup: Badai kehidupan akan datang silih berganti menguji ketahanan diri kita. Selama fondasi keimanan dan prinsip hidup kita terhunjam kokoh kepada Allah SWT, ujian seberat apa pun tidak akan mampu meruntuhkan marwah dan optimisme hidup kita.
Mari kita jadikan kemegahan gunung-gunung yang kokoh hari ini sebagai cermin muhasabah untuk memperdalam akar spiritual kita, merawat keteguhan prinsip hidup, dan menebarkan kedamaian serta kemaslahatan bagi sesama di setiap jejak langkah kita.