وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُۥ هُمُ ٱلْبَاقِينَ
Wa ja‘alnā żurriyyatahū humul-bāqīn(a).
Kami menjadikan keturunannya orang-orang yang bertahan (di bumi).
Baca Al-Quran Halaman 449 memuat As-Saffat ayat 77-102 dengan teks Arab jelas, terjemahan bahasa Indonesia, dan audio murottal per ayat.
وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُۥ هُمُ ٱلْبَاقِينَ
Wa ja‘alnā żurriyyatahū humul-bāqīn(a).
Kami menjadikan keturunannya orang-orang yang bertahan (di bumi).
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْـَٔاخِرِينَ
Wa taraknā ‘alaihi fil-ākhirīn(a).
Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian,
سَلَـٰمٌ عَلَىٰ نُوحٍ فِى ٱلْعَـٰلَمِينَ
Salāmun ‘alā nūḥin fil-‘ālamīn(a).
“Kesejahteraan (Kami limpahkan) atas Nuh di semesta alam.”
إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ
Innā każālika najzil-muḥsinīn(a).
Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.
إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُؤْمِنِينَ
Innahū min ‘ibādinal-mu'minīn(a).
Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang mukmin.
ثُمَّ أَغْرَقْنَا ٱلْـَٔاخَرِينَ
Ṡumma agraqnal-ākharīn(a).
Kemudian, Kami menenggelamkan yang lain.
۞ وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِۦ لَإِبْرَٰهِيمَ
Wa inna min syī‘atihī la'ibrāhīm(a).
Sesungguhnya Ibrahim termasuk golongannya (Nuh).646)
إِذْ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
Iż jā'a rabbahū biqalbin salīm(in).
(Ingatlah) ketika dia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci,647)
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦ مَاذَا تَعْبُدُونَ
Iż qāla li'abīhi wa qaumihī māżā ta‘budūn(a).
ketika dia berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Apa yang kamu sembah itu?
أَئِفْكًا ءَالِهَةً دُونَ ٱللَّهِ تُرِيدُونَ
A'ifkan ālihatan dūnallāhi turīdūn(a).
Apakah kamu menghendaki kebohongan dengan sesembahan selain Allah?
فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ
Famā ẓannukum birabbil-‘ālamīn(a).
Maka, bagaimana anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?”
فَنَظَرَ نَظْرَةً فِى ٱلنُّجُومِ
Fa naẓara naẓratan fin-nujūm(i).
Lalu, dia (Ibrahim) memandang sekilas ke arah bintang-bintang,
فَقَالَ إِنِّى سَقِيمٌ
Fa qāla innī saqīm(un).
kemudian dia berkata, “Sesungguhnya aku sakit.”
فَتَوَلَّوْا۟ عَنْهُ مُدْبِرِينَ
Fa tawallau ‘anhu mudbirīn(a).
Mereka lalu berpaling darinya seraya meninggalkannya.
فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمْ فَقَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ
Farāga ilā ālihatihim faqāla alā ta'kulūn(a).
Kemudian, dia langsung menuju ke berhala-berhala mereka (secara diam-diam), lalu berkata, “Mengapa kamu tidak makan?648)
مَا لَكُمْ لَا تَنطِقُونَ
Mā lakum lā tanṭiqūn(a).
Mengapa kamu tidak menjawab?”
فَرَاغَ عَلَيْهِمْ ضَرْبًۢا بِٱلْيَمِينِ
Farāga ‘alaihim ḍarbam bil-yamīn(i).
Dia lalu menghadap ke (berhala-berhala) itu sambil memukul dengan tangan kanan(-nya).
فَأَقْبَلُوٓا۟ إِلَيْهِ يَزِفُّونَ
Fa aqbalū ilaihi yaziffūn(a).
Kemudian, mereka (kaumnya) datang bergegas kepadanya.
قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ
Qāla ata‘budūna mā tanḥitūn(a).
Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu?
وَٱللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
Wallāhu khalaqakum wa mā ta‘malūn(a).
Padahal Allahlah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu.”
قَالُوا۟ ٱبْنُوا۟ لَهُۥ بُنْيَـٰنًا فَأَلْقُوهُ فِى ٱلْجَحِيمِ
Qālubnū lahū bun-yānan fa'alqūhu fil-jaḥīm(i).
Mereka berkata, “Buatlah bangunan (perapian) untuk (membakar)-nya, lalu lemparkan dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.”
فَأَرَادُوا۟ بِهِۦ كَيْدًا فَجَعَلْنَـٰهُمُ ٱلْأَسْفَلِينَ
Fa arādū bihī kaidan faja‘alnāhumul-asfalīn(a).
Mereka bermaksud memperdayainya, (namun Allah menyelamatkannya), lalu Kami menjadikan mereka orang-orang yang hina.
وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ
Wa qāla innī żāhibun ilā rabbī sayahdīn(i).
Dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku akan pergi (menghadap) kepada Tuhanku.649) Dia akan memberiku petunjuk.”
رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ
Rabbi hab lī minaṣ-ṣāliḥīn(a).
100. (Ibrahim berdoa,) “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.”
فَبَشَّرْنَـٰهُ بِغُلَـٰمٍ حَلِيمٍ
Fa basysyarnāhu bigulāmin ḥalīm(in).
Maka, Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak (Ismail) yang sangat santun.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَـٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ
Falammā balaga ma‘ahus-sa‘ya qāla yā bunayya innī arā fil-manāmi annī ażbaḥuka fanẓur māżā tarā, qāla yā abatif‘al mā tu'mar(u), satajidunī in syā'allāhu minaṣ-ṣābirīn(a).
Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”