Hadits Shahih Bukhari Nomor 7503
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ صَالِحٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ، قَالَ مُطِرَ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ " قَالَ اللَّهُ أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِي ".
Dari Zaid bin Khalid: Nabi ﷺ bersabda, "Allah berfirman, 'Sebagian dari hamba-hamba-Ku telah menjadi kafir kepada-Ku, dan sebagian lainnya, beriman kepada-Ku.'"
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah hadits qudsi yang sangat agung. Isinya menjelaskan bahwa Allah ﷻ murka kepada hamba yang mengaitkan turunnya hujan dengan bintang-bintang (menganggap bintang sebagai penyebab), dan Allah ﷻ ridha kepada hamba yang mengaitkan nikmat hujan semata-mata kepada karunia Allah. Hadits ini mengajarkan kita tentang hakikat tauhid dan kesyirikan dalam perbuatan hati, yaitu keyakinan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Tauhid, Bab "Perkataan Allah Ta'ala Yuriduna an Yubaddilu Kalamallah" (Mereka ingin mengubah perkataan Allah), no. 7503, dari sahabat Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu 'anhu.
Berikut teks haditsnya:
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ صَالِحٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ، قَالَ مُطِرَ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ " قَالَ اللَّهُ أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِي "
Makna ringkas: Dari Zaid bin Khalid radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Nabi ﷺ pernah kehujanan, lalu beliau bersabda: 'Allah berfirman: "Di pagi ini, sebagian hamba-Ku ada yang kafir kepada-Ku dan ada yang beriman kepada-Ku."'"
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat al-Istisqa', no. 71, dengan tambahan penjelasan:
"Barangsiapa mengatakan: 'Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu,' maka dia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang. Dan barangsiapa mengatakan: 'Kita diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya,' maka dia beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang."
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran tauhid yang sangat dalam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa mengaitkan nikmat kepada selain Allah dengan keyakinan bahwa makhluk itulah yang menciptakan atau menyebabkan nikmat tersebut adalah bentuk kesyirikan. Adapun sekadar menyebut bintang sebagai tanda atau waktu (seperti "hujan turun di musim bintang ini") tanpa meyakini bintang sebagai penyebab, maka itu tidak mengapa.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan dalam Syarh Riyadhush Shalihin bahwa pembagian manusia dalam hadits ini ada dua:
- Orang yang kafir kepada Allah – yaitu orang yang ketika turun hujan berkata, "Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu." Ucapannya ini menunjukkan bahwa hatinya menggantungkan sebab musabab kepada bintang, bukan kepada Allah. Ini adalah bentuk syirik kecil (syirik ashghar) karena menjadikan bintang sebagai sebab yang sebenarnya, padahal yang menurunkan hujan hanyalah Allah ﷻ.
- Orang yang beriman kepada Allah – yaitu orang yang ketika turun hujan berkata, "Kita diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya." Ucapannya ini menunjukkan bahwa hatinya meyakini bahwa segala nikmat datangnya dari Allah semata.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalil bahwa perbuatan hati (keyakinan) termasuk bagian dari iman dan kekufuran. Seseorang bisa menjadi kafir kepada Allah dalam satu sisi dan beriman kepada selain-Nya dalam sisi yang lain, meskipun ia masih mengaku muslim. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga lisan dan hati dari ucapan-ucapan yang mengandung kesyirikan.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa nikmat hujan adalah salah satu nikmat terbesar Allah. Maka ketika seseorang menerima nikmat, ia wajib mengaitkannya kepada Allah semata. Barangsiapa mengaitkannya kepada selain Allah, maka ia telah mengingkari nikmat dan jatuh dalam kesyirikan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa pada masa Nabi ﷺ, orang-orang Arab Jahiliyah memiliki kebiasaan mengaitkan turunnya hujan dengan bintang-bintang tertentu. Mereka berkata, "Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu." Maka Nabi ﷺ meluruskan keyakinan ini dengan sabda beliau yang agung ini.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya (no. 846) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
"Tidaklah Allah menurunkan suatu nikmat kecuali ada yang mengingkarinya. Mereka berkata: 'Ini karena bintang ini dan itu.' Padahal sebenarnya Allahlah yang menurunkannya."
Hikmah dari kisah ini: Betapa mudahnya seseorang terjatuh dalam kesyirikan tanpa sadar, hanya karena ucapan yang keluar dari lisannya. Maka seorang mukmin harus senantiasa menjaga lisannya dan mengaitkan segala nikmat kepada Allah ﷻ.
Kesimpulan Praktis
- Jaga lisan dari ucapan syirik – Jangan pernah mengaitkan nikmat atau musibah kepada selain Allah dengan keyakinan bahwa selain Allah adalah penyebabnya.
- Biasakan ucapan yang baik – Ketika turun hujan, ucapkanlah: "Muthirna bi fadhlillahi wa rahmatih" (Kita diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya).
- Sadari bahwa syirik kecil bisa terjadi dalam hati – Meskipun seseorang shalat dan berpuasa, keyakinan yang salah dalam hati bisa merusak tauhidnya.
- Pelajari tauhid dengan sungguh-sungguh – Karena tauhid adalah fondasi utama agama, dan kesalahan dalam tauhid adalah kesalahan yang paling berbahaya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.