Ketika Anda memandangi hamparan dedaunan hijau di perkebunan, hutan, atau pekarangan rumah, apa yang sesungguhnya sedang terjadi di balik warna hijau tersebut? Bagi peradaban manusia selama ribuan tahun, warna hijau pada dedaunan dianggap sekadar pigmen dekoratif alam yang menyegarkan pandangan mata, sementara proses pertumbuhan tanaman dipahami secara sederhana: menyerap air dan hara dari tanah.
Namun, di dalam Al-Qur'an yang diturunkan pada abad ke-7, terdapat dua deskripsi biokimia yang sangat spesifik dan mengejutkan nalar ilmiah: Al-Qur'an menegaskan bahwa seluruh rantai makanan nabati diproduksi dari materi hijau tanaman (khadhiran), dan bahwa energi api yang kita bakar sesungguhnya berakar dari kayu hijau yang basah.
Perhatikan ketelitian diksi di dalam Surah Al-An'am Ayat 99:
“...lalu Kami keluarkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu bahan yang hijau (khadhiran); Kami keluarkan dari bahan yang hijau itu butir yang banyak (bertumpuk-tumpuk)...” (QS. Al-An'am: 99)
Penegasan mengenai keterkaitan antara tanaman hijau dan energi api diabadikan dalam firman Allah SWT pada Surah Yasin Ayat 80:
“Yaitu (Allah) yang menjadikan api untukmu dari pohon yang hijau, maka seketika itu kamu menyalakan (api) daripadanya.” (QS. Yasin: 80)
Serta pertanyaan retoris di dalam Surah Al-Waqi'ah Ayat 71-72 mengenai asal-usul energi pembakaran yang dinikmati manusia.
Mengapa Al-Qur'an secara eksplisit menyebut bahwa butir-butir makanan (seperti beras, gandum, jagung) keluar dari khadhiran (zat hijau tanaman)? Dan bagaimana mungkin pohon yang hijau, segar, dan berair justru disebut sebagai sumber api?
Biokimia dan termodinamika modern pada abad ke-19 dan ke-20 menyingkap rahasia ini dengan ketepatan yang menakjubkan:
- Penemuan Mesin Fotosintesis (Kloroplas dan Klorofil): Baru pada pertengahan abad ke-19, ilmuwan Jerman Julius von Sachs membuktikan bahwa butir-butir pati (karbohidrat) yang menjadi makanan pokok seluruh makhluk hidup diproduksi secara eksklusif di dalam organel sel tumbuhan yang mengandung pigmen hijau bernama klorofil (chlorophyll). Tanpa adanya zat hijau ini, tanaman tidak dapat menangkap foton cahaya matahari untuk mereaksikan karbon dioksida dan air menjadi glukosa. Al-Qur'an mendahului biologi seluler dengan tepat: menempatkan khadhiran sebagai pabrik penghasil bulir makanan (habba mutarākibā).
- Penyimpanan Energi Surya dalam Ikatan Karbon: Reaksi fotosintesis pada dasarnya adalah proses konversi energi foton matahari menjadi energi kimia yang terperangkap dalam ikatan rantai hidrokarbon selulosa dan lignin kayu. Ketika kayu pohon tersebut mengering dan kita membakarnya, api yang menyala dan memancarkan panas sesungguhnya adalah pelepasan kembali energi radiasi matahari yang disimpan oleh klorofil pohon hijau tersebut di masa lalu. Bahkan seluruh bahan bakar fosil dunia (minyak bumi, gas, batu bara) pada hakikatnya adalah fosil tanaman hijau purba yang menyimpan energi matahari purba.
- Paradoks Pohon Hijau Menjadi Api: Diksi asy-syajaril-akhdhar (pohon yang hijau) menyiratkan proses hidup yang aktif: hanya pohon yang hidup dan berdaun hijau yang mampu berfotosintesis menyerap karbon dan memerangkap energi. Tanpa fase hijau tersebut, tidak akan pernah ada kayu yang bisa menyalakan api.
Pernyataan ilmiah yang sangat terperinci mengenai mekanisme fotosintesis dan rantai termodinamika energi ini mustahil dirumuskan oleh seorang manusia pada abad ke-7 tanpa bimbingan wahyu dari Sang Pencipta semesta.
Di balik ketakjuban biokimia fotosintesis tersebut, Al-Qur'an mengajarkan filosofi kehidupan yang sangat mendasar bagi manusia:
- Filosofi Mengubah Cahaya Menjadi Kehidupan: Sebagaimana klorofil yang hening menangkap cahaya langit yang tak kasat mata lalu mengubahnya menjadi buah dan butir pangan bagi makhluk bumi, manusia beriman dipanggil untuk menyerap cahaya petunjuk Ilahi (wahyu) dan mengonversinya menjadi karya nyata, makanan bagi jiwa, serta solusi konkret bagi masyarakat.
- Menjadi Rantai Manfaat Tanpa Putus: Tanaman hijau adalah produsen primer dalam ekosistem; ia tidak menuntut imbalan dari hewan dan manusia yang memakan buahnya atau berteduh di bawah rindang daunnya. Pribadi yang mulia adalah pribadi yang beretos produsen: senantiasa memberi nilai tambah, melahirkan manfaat, dan menjadi pilar kebaikan bagi lingkungannya.
- Kesadaran Ekologis Menjaga Paru-Paru Bumi: Menghancurkan hutan dan vegetasi hijau berarti memutus siklus pemurnian udara dan rantai makanan global. Merawat alam, menanam pohon, dan melestarikan lingkungan hijau adalah manifestasi ibadah ekologis untuk menjaga amanah kelangsungan hidup anak cucu kita.
Mari kita jadikan setiap butir nasi yang kita santap dan hangatnya energi yang kita nikmati hari ini sebagai pengingat akan kesempurnaan ciptaan Allah SWT, seraya merawat bumi dan terus memancarkan energi kebaikan bagi semesta.