Secara intuitif dan fisika dasar, air dan api dipahami manusia sebagai dua elemen alam yang saling meniadakan secara mutlak: air memadamkan api, sementara panas api menguapkan air. Selama ribuan tahun sejarah peradaban, gagasan bahwa api dapat menyala berkobar di bawah timbunan triliunan meter kubik air samudra dianggap sebagai sebuah kemustahilan logika atau sekadar khayalan mitologis belaka.

Namun, di dalam Al-Qur'an yang diwahyukan pada abad ke-7 di tengah jazirah Arab yang gersang dan jauh dari palung laut dalam, Allah SWT bersumpah dengan sebuah fenomena alam yang sangat tidak lazim di dalam Surah At-Tur Ayat 6:

“Dan demi lautan yang dinyalakan api di dalamnya (al-bahril masjûr).” (QS. At-Tur: 6)

Kata masjûr dalam bahasa Arab klasik berasal dari akar kata sa-ja-ra, yang memiliki makna harfiah “dinyalakan api hingga membara” (sebagaimana tungku perapian yang dinyalakan) atau “diisi dengan sesuatu yang meluap panas”. Al-Qur'an juga menegaskan peristiwa eskatologis dalam Surah At-Takwir Ayat 6: “Wa idzal-bihâru sujjirat” (Dan apabila lautan dijadikan meluap menyala menjadi api).

Bagaimana mungkin dasar laut yang dingin dan gelap menyimpan kobaran api? Fakta ilmiah di balik sumpah ilahi ini baru terkuak secara dramatis pada paruh kedua abad ke-20 melalui eksplorasi oseanografi modern:

  1. Sistem Pematang Tengah Samudra (Mid-Ocean Ridges): Penjelajahan geofisika dasar laut berhasil memetakan jalur pegunungan bawah laut terpanjang di dunia—membentang lebih dari 65.000 kilometer melintasi Samudra Atlantik, Pasifik, dan Hindia. Di sepanjang punggungan ini, lempeng tektonik bumi saling menjauh (divergent plate boundary), menyebabkan kerak bumi terbelah dan mantel atas bumi yang berpijar memuntahkan lava magma cair bersuhu lebih dari 1.000°C langsung ke dasar samudra.
  2. Fenomena Ventilasi Hidrotermal (Black Smokers): Pada tahun 1977, ekspedisi kapal selam riset Alvin di kepulauan Galapagos menemukan cerobong hidrotermal laut dalam di kedalaman ribuan meter. Cerobong ini menyemburkan cairan mineral panas bersuhu hingga 400°C yang tidak mendidih karena tekanan hidrostatik ekstrem (mencapai ratusan atmosfer). Di dasar samudra yang bersuhu mendekati titik beku (sekitar 2°C), aliran magma membara terus menyembur tanpa pernah padam oleh dinginnya air laut, dan luasnya samudra tidak pernah sanggup mengeringkan sumber magma mantel bumi.

Ketelitian ilmiah ini selaras secara menakjubkan dengan riwayat hadits nabawi yang dicatat oleh para perawi hadits terkemuka. Dalam riwayat Sunan Abu Daud No. 2489 (juga dalam Musnad Ahmad), Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada yang mengarungi lautan kecuali orang yang berhaji, berumrah, atau orang yang berperang di jalan Allah, karena sesungguhnya di bawah lautan ada api, dan di bawah api ada lautan...” (Sunan Abu Daud No. 2489)

Ungkapan “inna tahtal-bahri nâran” (sesungguhnya di bawah laut terdapat api) adalah bukti tak terbantahkan mengenai sumber kenabian Muhammad SAW. Beliau bukanlah seorang pelaut, apalagi peneliti oseanografi kelautan dalam. Pengetahuan geologis bahwa di bawah lapisan kerak samudra terdapat dapur magma cair panas adalah wahyu otentik dari Sang Pencipta semesta.

Rasulullah SAW juga mengaitkan keluarnya api dari perut bumi dan dasar laut dengan dinamika akhir zaman, sebagaimana termaktub dalam hadits riwayat Shahih Muslim No. 2901 mengenai tanda-tanda besar hari kiamat.

Dari aspek filosofi kehidupan dan tadabbur keimanan, fenomena al-bahril masjûr mengajarkan pesan yang sangat mendalam bagi manusia modern:

  1. Keharmonisan Semesta di Tengah Paradoks: Jika air yang memadamkan dan api yang membakar dapat berdampingan secara tertib di bawah hukum kekuasaan Allah (sunnatullah) tanpa saling menghancurkan tatanan bumi, maka manusia dengan segala perbedaan latar belakang seharusnya mampu hidup berdampingan dalam harmoni dan kedamaian sosial.
  2. Refleksi Pengendalian Diri: Samudra luas tampak tenang dan hening di permukaannya, namun di dasarnya tersimpan energi termal mahadahsyat yang terus terkelola secara seimbang. Demikianlah kepribadian seorang muslim sejati: memiliki ketenangan akhlak, kelembutan tutur kata, dan pengendalian emosi yang anggun di luar, meski menyimpan ghirah keteguhan iman dan tekad membara di dalam jiwa.
  3. Kerendahan Hati Intelektual: Kemajuan sains tidak pernah bertentangan dengan wahyu Ilahi; sebaliknya, penemuan mikroskopis dan eksplorasi samudra terdalam justru terus menjadi saksi pembuka tabir kebenaran ayat-ayat Al-Qur'an bagi siapa saja yang mau berpikir secara kritis.

Semoga renungan mendalam tentang rahasia lautan yang dipanaskan ini semakin meneguhkan keyakinan kita akan keagungan Al-Qur'an dan menuntun langkah kita untuk senantiasa bertasbih memuji Dzat Pemilik seluruh semesta.